skip to main |
skip to sidebar
Seorang ibu setengah baya berjalan menyusuri gang sempit di sudut kehidupan. Setengah terkoyak hati, jiwa dan raganya. Si kecil menangis tiada henti di pelukannya. Dan yang lain bejalan dalam genggamanya tanpa sepatah kata pun, tangan di depan hulu hatinya sekuat tenaga ia tuntun tuk membungkam rasa takut akan kematian di depan matanya. Siapa peduli? Di ujung tatihnya terkulai tubuh kering dan kaku, didepan mimpinya berlalu, ketika angkatannya berjalan dengan sendirinya. Belajar membaca. Membaca untaian kata-kata di atas kertas kertas seharga jutaan dolar, dan berdiri melebihi tiang tiang kota diantara mereka. Bukan membaca pertanda alam dengan cuma cuma , walau terkadang roh nya harus dipertaruh kan hari itu juga, yang ia tahu hujan akan turun esok hari, walau terik hari ini membakar mimpinya sekali lagi. Belajar untuk terus hidup. Oh maaf. Bukan belajar teman, berusaha tuk temukan esok hari, tuk pastikan berada di sana sebelum pagi menjatuhimu cercaan menghina, dan kau harus selalu disana. Esok, dan esok lagi. Tuk tetap berdiri. Berperang dengan alam. Takhlukkan kematian untuk kesekian kali. Dan kau tau hanya mengulur waktu hingga kau lelah, dan benar-benar menyerah. Dan ku tahu kau tak akan.
Tahu kah kau teman, aku baru dengar, sepatah kata dari mu, dan kau membuat ku malu pada mimpi-mimpi ku, ketika kau bilang “bagaimana”, bukannya “kenapa”, karena, maaf, hidupmu sudah dilukai alam, bukan seperti yang di mantrakan orang orang yang jalani hidup mereka tanpa makna, tapi selalu bertanya “kenapa”. Dan kau selalu punya “bagaimana”. Bagaimana untuk tetap berebut udara dengan kami. Kami hanya lihat, tak sadari kau ada. Sedikit waktu tuk menghitung detik lelahmu. Tapi kini kudapat sedikit pandangan melalui matamu. Tahukah kau teman, kau membuatku merasa berunutng, aku ingat ibuku, masih beruntung dari mu, tak lewati hari seperti mu. Walau hari itu ku dapati ia menangis di balik tidur ku, kutemukan luka yang ia simpan bertahun setelah ayah terlelap dalam tidur panjangnya. Ibu ku tertatih sendiri. Untuk pertama kalinya aku terjaga melihat beban nya yang tak pernah ia bagi dengan kami. Saat itu juga ku pastikan itu untuk terakhir kali nya ia terjaga dari mimpi buruknya. Ia wanita terkuat yang pernah kutemui. Ibuku. Tak ada yang lain. Masih setia dengan cintanya. Kami semua. Aku tak kan pernah bilang seandainya, ataupun seharusnya untuk nya. Karena kami terlahir atas semua kearifannya, keluarganya. Tiada guna kita ratapi setiap kepergiannya, ibunda. Tak akan. Karena kita relakan semua tertinggal dibelakang kita, karena lebih baik begini, kita tak ingin melihat ia terbaring dengan air matanya melihat kita tertatih sendiri di depan matanya, sementara sebagian raganya lemah tak berdaya. Bisa kulihat sakit di jiwa dan raganya. Walau ku masih tertatih maraih tangannya dipangkuan mu. Ingatkah kau ibunda, terakhir kali kita tertawa bersamanya? Kuharap bukan yang terakhir untuk kita. Ia titipkan bahagian nya untuk kita. Dan kita tak akan buat ayah menteskan kepedihan kita dari sana, dipangkuan-Nya. Sedikit lagi ibunda ku tecinta. Tersenyumlah ibunda, karena kunang kunang hari itu telah berjanji menemui pagi, merebut semua cahaya dari matahari. Masih berjuang melawan malam. Lihat lah, aku, dan anak anak mu yang lain tak lagi belajar meniti kaki tuk berjalan, kami sudah berlari merebut semua yang pernah terlewat dari kita. Semua yang pernah hilang, dan semua yang pernah mereka rebut dari kita. Tak usah pedulikan mereka. Karena mereka memang tak peduli, mereka hanya bertanya, Kenapa? Itu saja.